Pusat,Sejarah,Peninggalan di Pulau Penyengat

Pulau Penyengat

Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti dalam sebutan sumber-sumber sejarah, adalah sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 6 km dari Kota Tanjung Pinang, pusat pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 meter, dan berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam. Pulau ini dapat dituju dengan menggunakan perahu bot atau lebih dikenal bot pompong. Dengan menggunakan bot pompong, memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.

Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau. Salah satu objek yang bisa kita liat adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Pulau penyengat dan komplek istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia

Sejarah

Pada abad ke-18, Raja Haji membangun sebuah benteng di Pulau Penyengat, benteng tersebut tepatnya berada di Bukit Kursi, disana ditempatkan beberapa meriam sebagai basis pertahanan Bintan Ia menguasai wilayah istrinya Raja Hamidah tahun 1804. Anaknya kemudian memerintah seluruh kepulauan Riau dari Pulau Penyengat. Sementara itu, saudara laki-lakinya memerintah di Pulau Lingga di sebelah selatan dan mendirikan Kesultanan Lingga-Riau.

Galeria gambar

Makam raja-raja (Raja Ja’afar dan Raja Ali Marhum Kantor) yang berada di tengah-tengah pulau Penyengat

Masjid raya Sultan Riau di pulau Penyengat

Selamat Datang di Pulau Penyengat

Kompleks Istana Kantor sebagai objek pariwisata di pulau Penyengat

Makam Engku Putri Raja Hamidah (wafat 12/7/1844

 

 

 

Kesultanan Riau-Lingga

 

Kesultanan Riau-Lingga

1824–1911
Ibu kota Daik dan Pulau Penyengat
Bahasa Melayu
Agama Islam
Pemerintahan Monarki
Sultan
 – 1818-1832 Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah
 – 18321835 Sultan Muhammad II Muadzam Syah
 – 18351857 Sultan Mahmud IV Mudzafar Syah
 – 18571883 Sultan Sulaiman II Badarul Alam Syah
 – 18851911 Sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah
Sejarah
 – Traktat London 1824
 – Pembubaran oleh Belanda 1911

Kesultanan Riau-Lingga adalah kerajaan Islam yang berpusat Kepulauan Lingga yang merupakan pecahan dari Kesultanan Johor. Kesultanan ini dibentuk berdasarkan perjanjian antara Britania Raya dan Belanda pada tahun 1824 dengan Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah sebagai sultan pertamanya. Kesultanan ini dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 3 Februari 1911.

Wilayah Kesultanan Riau-Lingga mencakup provinsi Kepulauan Riau modern, tapi tidak termasuk provinsi Riau yang didominasi oleh Kesultanan Siak, yang sebelumnya sudah memisahkan diri dari Johor-Riau.

Kesultanan ini memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa Indonesia. Pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah Raja Ali Haji, seorang pujangga dan sejarawan keturunan Melayu-Bugis.

Sejarah kerajaan Riau Lingga

Riau-Lingga pada awalnya merupakan bagian dari Kesultanan Malaka, dan kemudian Kesultanan Johor-Riau. Pada 1811 Sultan Mahmud Syah III mangkat. Ketika itu, putra tertua, Tengku Hussain sedang melangsungkan pernikahan di Pahang. Menurut adat Istana, seseorang pangeran raja hanya bisa menjadi Sultan sekiranya dia berada di

 

 

samping Sultan ketika mangkat. Dalam sengketa yang timbul Britania mendukung putra tertua, Husain, sedangkan Belanda mendukung adik tirinya, Abdul Rahman. Traktat London pada 1824 membagi Kesultanan Johor menjadi dua: Johor berada di bawah pengaruh Britania sedangkan Riau-Lingga berada di dalam pengaruh Belanda. Abdul Rahman ditabalkan menjadi raja Riau-Lingga dengan gelar Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah, dan berkedudukan di Daik, Kepulauan Lingga.

Sultan Hussain yang didukung Britania pada awalnya beribukota di Singapura, namun kemudian anaknya Sultan Ali menyerahkan kekuasaan kepada Tumenggung Johor, yang kemudian mendirikan kesultanan Johor modern.

Pada tanggal 7 Oktober 1857 pemerintah Hindia-Belanda memakzulkan Sultan Mahmud IV dari tahtanya. Pada saat itu Sultan sedang berada di Singapura. Sebagai penggantinya diangkat pamannya, yang menjadi raja dengan gelar Sultan Sulaiman II Badarul Alam Syah. Jabatan raja muda (Yang Dipertuan Muda) yang biasanya dipegang oleh bangsawan keturunan Bugis disatukan dengan jabatan raja oleh Sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah pada 1899. Karena tidak ingin menandatangani kontrak yang membatasi kekuasaannya Sultan Abdul Rahman II meninggalkan Pulau Penyengat dan hijrah ke Singapura. Pemerintah Hindia Belanda memakzulkan Sultan Abdul Rahman II in absentia 3 Februari 1911, dan resmi memerintah langsung pada tahun 1913.

ari catatan sejarah, Raja-raja atau Sultan yang pernah memerintah kerajaan Melayu Riau-Lingga selama periode pusat kerajaan di Daik (pindah ke Pulau Penyengat Indra Sakti,red) Lingga, yaitu : Sultan Abdurakhman Syah 1812-1832, Sultan Muhammad Syah 1832-1841, Sultan Mahmud Muzafar Syah 1841-1857, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II 1857-1883 dan Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah pada tahun 1883-1911. Peninggalan sejarah masa keemasan kerajaan Melayu Riau-Lingga masih ada sampai saat ini seperti misalnya Mesjid Jamik Daik yang terletak di Kampung Darat, Daik Lingga, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat Syah 1761-1812 atau di masa awal beliau memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga.

Sumber tempatan menyebutkan mesjid ini dibangun sekitar 1803, dimana bangunan aslinya seluruhnya dari kayu. Kemudian setelah Mesjid Penyengat dibangun, mesjid ini dirombak dan dibangun lagi dari beton. Didalam ruang utamanya tidak menggunakan tiang penyangga kubah atau lotengnya. Di mimbarnya ada tulisan terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi) : “Muhammad SAW. Pada 1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen membuat mimbar di dalam negeri Semarang Tammatulkalam.” Tulisan ini menunjukkan, mimbar yang indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah dengan memasukkan motif ukiran tradisional Melayu.

Bekas Istana Damnah, yang tersisa dari bangunan megah ini hanyalah tangga muka, tiangnya dan sebagian tembok pagarnya terbuat dari beton, berdiri di Kampung Damnah oleh Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X 1857-1899. Pada 1860 olehnya didirikan Istana Damnah in untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II, sebelumnya Sultan Sulaiman bermaustin di Istana Kota Baru tak berjauhan dari pabrik sagu yang didirikannya. Gedung Bilik 44, bangunan ini baru sempat dikerjakan pondasinya saja karena Sultan keburu dipecat penjajah Belanda (VOC) 1812.

 

 

 

Terletak dilokasi lereng Gunung Daik. Sultan merencanakan gedung ini untuk para pengrajin di Riau-Lingga agar mereka dapat bekerja lebih tenang serta mengembangkan keahliannya.

Kubu Pertahanan (Benteng), merupakan daerah pertahanan bagi kerajaan Riau-Lingga. Ditambah kesibukan perairan Selat Melaka yang ramai di masa itu bersamaan pula dengan desingan peluru dan asap mesiu dari kemungkinan serangan negara asing. Bangunan atau kubu pertahanan yang cukup kokoh, persenjataan yang lengkap berada di Pulau Mepar dan dikenal dengan nama Kubu Bukit Ceneng dan Kubu Kuala Daik.

Makam Bukit Cengkeh, terletak di Bukit Cengkeh, Daik dimana terdapat kompleks makam raja-raja Melayu Riau-Lingga. Bangunan yang dulunya amat indah berbentuk segi delapan bergaya arsitektur Turki. Di sini terdapat makam Sultan Abdurrakhman Syah, beberapa anggota kerajaan. Makam Merah, disebut demikian karena warna cat makam ini berwarna merah. Tiang dan pagarnya terbuat dari besi dengan atap seng tebal dan tidak berdinding. Terletak tidak jauh dari Istana Damnah. Pada makan dengan atap berbentuk segi empat yang melingkarinya, dimakamkan Raja Muhammad Yusuf, Yang Dipertuan Muda Riau X.

Peninggalan sejarah lainnya yang masih ada termasuk juga Rumah Datuk Laksemana Daik, di Kampung Bugis, berbentuk limas dan pernah juga ditempati oleh Datuk Kaya Pulau Mepar, menantu Datuk Laksemana, terakhir di huni pula oleh Datuk Kaya Daik. Rumah Jeal (jil, penjara) peninggalan Belanda yang dibangun 1936 dan banyak lagi lainnya.

SEJARAH MESJID PENYENGAT

 


Mimbar Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

 

 

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

1.Sejarah Pembangunan

Masjid yang menjadi kebanggaan org melayu didirikan pada tanggal 1 syawal 1249 H (1832 M) atas prakarsa raja abdurrahman yang dipertuan muda riau VII pelaksanaan pembangunan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dikerajaan riau yang bekerja siang malam secara bergiliran.

Didalam masjid tersimpan kitab-kitab kuno(terutamanya yang menyangkut agama islam) bekas koleksi perpustakaan yang didirikan oleh R. Muhammad yusuf al ahmadi yang dipertuan muda riau X. Banda menarik lain yang terdapat dimasjid adalah mimbar indah dan kitab suci al quran tulisan tangan.

2. Lokasi

Masjid ini terletak dipulau penyengat indra saktikecamatan tanjung pinang barat kepulauan riau indonesia pulau penyengat berukuran sekitar 2×1 km berjarak sekitar 2 meter dai tanjung pinang dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dgn prahu motor.

3. Luas

Masjid in berukuran 18×19,80 m, sementara luas lahannya sekitar 55x33m.

4. Arsitektur

Dalm kompleks masjid, dari tangga hingga mihrab

manya Masjid Raya Sultan Riau. Orang biasa memanggilnya dengan Masjid Pulau Penyengat. Ada juga yang menyebut Masjid Putih Telur. Nama Penyengat karena lokasi masjid tersebut memang berada di sebuah pulau kecil di Riau, pulau Penyengat.

 

 

 

 

Menuju lokasi masjid ini cukup mudah dan menarik. Dari Batam, perjalanan dilakukan dengan menaiki kapal penyeberangan feri menuju Tanjungpinang. Lama perjalanan sekitar satu jam.

Dari Tanjungpinang, perjalanan diteruskan dengan menaiki perahu kecil yang bernama Pompong menuju pulau Penyengat. Di sini, pengunjung bisa menikmati keindahan laut kepulauan Riau.

Sekitar lima belas menit, kubah masjid Penyengat mulai terlihat jelas. Suatu pemandangan yang memadukan antara keindahan alam dengan ketinggian religiusitas lingkungan sekitar. Akhirnya, tampaklah masjid itu dengan utuh.

Warna kuning tampak dominan. Ada 13 kubah di masjid itu yang susunannya bervariasi. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian sekitar 19 meter, dan bubung yang dimiliki masjid tersebut sebanyak 17 buah. Angka ini diartikan sebagai jumlah rakaat shalat.

Masjid yang tercatat dalam sejarah sebagai merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih ada ini berukuran sekitar 54 x 32 meter. Ukuran bangunan induknya sekitar 29 x 19 meter.

Keindahan arsitektur masjid sangat unik. Masjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura.

Sejarahnya, pada tahun 1805 Sultan Mahmud menghadiahkan pulau Penyengat kepada isterinya Puteri Raja Hamidah. Bersamaan dengan itu, dibangun Masjid Sultan. Cuma waktu itu, masjid hanya terbuat dari kayu. Kemudian, keturunan kerajaan setelah itu, Raja Ja’far membangun Penyengat sekaligus memperlebar masjidnya.

Pembangunan masjid secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844) menggantikan Raja Ja’far. Tak lama setelah memegang jabatan itu, pada 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk bergotong royong membangun masjid.

Dalam gotong royong itulah, masyarakat membawa berbagai perbekalan. Termasuk telur. Karena berlimpah, banyak putih telur yang tidak habis dimakan. Dan oleh pekerja, putih telur itu dijadikan campuran adukan. Menurut mereka, dengan campuran putih telur, bangunan akan lebih kokoh dan tahan lama.

Dari situlah, masyarakat sekitar juga menyebut masjid penyengat ini dengan masjid putih telur.

Selain bangunan yang indah, masjid Penyengat menyimpan mushaf Alquran tulisan tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh putera Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867. Namanya, Abdurrahman Istambul.

Ada Alquran tulis tangan lain yang ada di masjid. Namun, tak diperlihatkan kepada umum karena khawatir sudah terlalu rentan. Ditulis pada tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran. Bahkan, terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu, kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam dua lemari di sayap kanan depan masjid.

 

Masjid yang menjadi kebanggaan orang Melayu ini didirikan pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M), atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII. Pelaksanaan pembangunannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat di kerajaan Riau,yang bekerja siang malam secara bergiliran.Di dalam masjid, tersimpan kitab-kitab

 

 

 

 

 

kuno (terutama yang menyangkut agama Islam), bekas koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Benda menarik lain yang terdapat dalam masjid adalah mimbar indah dan kitab suci al-Quran tulisan tangan.

Lokasi Masjid ini terletak di Pulau Penyengat Indera Sakti, Kecamatan Tanjung Pinang Barat, Kepulauan Riau, Indonesia. Pulau Penyengat berukuran sekitar 2×1 km, berjarak sekitar 2 km dari Tanjung Pinang, dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dengan perahu motor.
Masjid Sultan Riau ini terletak di pelataran. Kemungkinan, lokasi tersebut bekas bukit kecil yang diratakan, dengan tinggi sekitar 3 meter dari permukaan jalan. Untuk naik ke masjid, dibuat tangga yang cukup tinggi.Masjid ini berukuran 18×19,80 m, sementaraluas lahannya sekitar 55×33 m.

 

Arsitektur Dalam kompleks masjid, dari tangga hingga mihrab, terdapat unit bangunan yang terpisah-pisah, masing-masing dalam posisi simetris. Dari tangga, terdapat jalan setapak pada sumbu tengah dari unit bangunan simetris tersebut. Di halaman kiri dan kanan masjid, ada bangunan berdinding beratap limasan batu. Masyarakat setempat menyebut bangunan kembar tersebut dengan nama sotoh. Tempat ini berfungsi sebagai tempat permusyawaratan para ulama dan cendekiawan.Selain itu, juga terdapat bangunan kembar di sisi kiri dan kanan, masing-masing berbentuk persegi empat panjang. Sisi terpanjangnya sejajar dengan arah kiblat. Kedua bangunan ini semacam gardu, tapi besar dan panjang tak berdinding, mempunyai kolong, dengan konstruksi terbuat dari kayu.Pintu utama masuk masjid berada di tengah, menjorok ke depan seperti beranda (porch) dan diatapi kubah. Di tiap sudutnya terdapat pilaster. Denah dan semua elemen yang ada dalam masjid berada dalam susunan simetris.Atap ruang utama masjid sangat unik, dan menunjukkan adanya pengaruh India, dimana arsiteknya berasal. Keunikan itu berupa deretan melintang dan membujur dari kubah-kubah.Kubah berbentuk bawang, berbaris empat mengarah kiblat dan berbaris tiga dengan arah melintang. Secara keseluruhan kubahnya berjumlah 12. Jika ditambah dengan kubah di atas beranda depan pintu masuk utama, maka, jumlahnya menjadi 13.Masjid memiliki 4 buah menara, posisinya berada di setiap sudut ruang utama sembahyang, dengan bentuk yang hampir sama. Puncak menara berbentuk sangat runcing seperti pensil. Tampaknya menara ini dipengaruhi oleh menara-menara masjid di Turki, yang sebenarnya berasal dari gaya arsitektur Bizantium. Hal yang sedikit membedakan, menara masjid di Turki runcing, tinggi dan ramping, sementara menara Masjid Sultan Riau di Penyengat hanya runcing, namun tidak tinggi dan ramping (gemuk).Mengenai arti jumlah kubah yang mencapai 13 buah, ada yang mengatakan bahwa jumlah tersebut melambangkan rukun masjid, dan jika ditambah dengan jumlah menara yang empat, maka jumlahnya menjadi 17. Ini melambangkan jumlah rakaat shalat fardlu dalam sehari semalam.Bangunan masjid ini seluruhnya terbuat dari beton. Di bagian dalam ruang utama, terdapat empat buah tiang utama. Cerita masyarakat tempatan menyebutkan, untuk membangun masjid ini, terutama untuk memperkuat beton kubah, menara dan bagian tertentu lainnya, dipergunakan bahan perekat dari campuran putih telur dan kapur. Berdasarkan cerita turun temurun masyarakat tempatan, konon arsitek Masjid Penyengat adalah seorang keturunan India yang bermukim di Singapura. Namun, tidak ada yang mengetahui secara pasti, siapa nama arsitek tersebut.

 

Pesona Kepri |Pulau Penyengat, adalah sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 6 km dari kota Tanjung Pinang, ibukota dari propinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran

 

 

 

 

 

kurang lebih hanya 2.500 x 750 m, dan berjarak lebih kurang 35 km dari pulau Batam. Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau. Salah satu objek yang bisa kita liat adalah Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi.

 

MESJID RAYA SULTAN RIAU

Mesjid ini di bangun pada tahun 1832 pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahman, pembangunan mesjid ini dilakukan secara bergotong royong oleh semua masyarakat penyengat pada masa itu. Aspek yang paling menarik dalam pembangunan mesjid ini adalah digunakannya putih telur sebagai campuran semen untuk dinding mesjit. Mesjid ini merupakan bangunan yang unik dengan panjang 19,8 meter dan lebar 18 meter, rungan tempat sembahyang disangga oleh 4 buah tiang besar, atapnya berbentuk kubah sebanyak 13 buah dan menara sebanyak 4 sebuah, semuanya berjumlah 17 sesuai dengan rakaat sebahyang sehari semalam.Di dalam mesjid ini juga terdapat kitab suci Al-Quran yang ditulis tangan, sertalemari perpustakaan kerajaan riau-lingga yang pintunya berukir kaligrafi yangmelambangkan kebudayaan islam sangat berkembang pesat pada masa itu.

 

KOMPLEKS MAKAM ENGKU PUTERI RAJA HAMIDAH

Di dalam kompleks makam yang memiliki struktur atap bersusun dengan ornamen yang indah ini terdapat beberapa makam pembesar kerajaan riau salah satu diantaranya adalah makam Enku Puteri. Engku Puteri yang memiliki naman lahir Raja Hamidah merupakan anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau ke IV.Perkawinan dengan Sultan Mahmud mengantar Engku Puteri Raja Hamidah menjadi tokoh yang sangat penting dalam kerajaan Riau-Johor pada awal abad ke-19. Karena di dalam tangannya diamanahkan alat-alat kebesaran kerajaan (insignia atau rgelia). Tanpa alat-alat kebesaran itu penobatan seorang sultan menjadi tidak sah menurut adat setempat.Pulau pengengat juga merupakan mas kawin dari Sultan Mahmud kepada Engku Puteri. Engku Puteri wafat pada tahun 1844. Selain makam Engku Puteri juga terdapat makam Raja Haji Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau IX, dan makam Raja Ali Haji Sastrawan dari kerajaan Riau Lingga, karyanya yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas.

 

KOMPLEKS MAKAM RAJA HAJI FISABILLILLAH

Komplek makam ini terletak diatas bukit di selatan pulau Penyengat. Raja Haji Fisabilillah adalah Yang Dipertuan Muda IV kerajaan Riau Lingga yang memerintah kerajaan dari tahun 1777-1784 merupakan figur legendaris dan pahlawan melayu.

Raja Haji Fisabilillah sangat gencar mengadakan perlawanan-perlawanan terhadap penjajah, peristiwa yang terbesar adalah ketika meletusnya perang Riau. Pasukan Riau berhasil memukul mundur pasukan Belanda dari perairan Riau dan memenangkan pertempuran tersebut setelah berhasil menenggelamkan kapal Maraca Van Warden.
Raja Haji wafat pada 18 juni 1784 dikenal sebagai Marhum Teluk Ketapang. Oleh Belanda, Raja Haji dikenal juga sebagai Raja Api. Dan oleh Pemerintah Indonesia Raja Haji Fisabilillah dianugrahi menjadi pahlawan nasional. Disebelah komplek makam Raja Haji Fisabilillah juga terdapat makam Habib Syech, ulama terkenal semasa kerajaan Riau.

 

 

 

 

 

 

 

KOMPLEK MAKAM RAJA JAKFAR

Komplek makam Raja Jakfar adalah komplek makam yang baik diantara makam lainnya. Dilapisi dinding dengan pilar dan kubah kecil disamping terdapt kolam tempat berwudhu untuk sholat. Raja Jakfar adalah anak Raja Haji Fisabilillah, merupakan Yang

Dipertuan Muda Riau VI.Pada masa pemerintahannya ia memindahkan pusat kerajaan yang tadinya di hulu Riau ke pulau Penyengat. Ia memulai karirnya sebagai pengusaha pertambangan timah yang sukses di Kelang, Selangor.
Karena sering mengunjungi kota melaka beliau menjadi peka akan penataan kota dengan arsitektur yang sejalan dengan zaman. Karena itulah pulau Penyengat ditata dan dikelolanya dengan selera yang tinggi.Dalam komplek makam Raja Jakfar juga terdapat makam Raja Ali Yang Dipertuan Muda VIII kerajaan Riau anak dari Raja Jakfar. Raja Ali merupakan figure yang taat beribadah. Pada masa pemerintahannya ia membuat kebijakan untuk mewajibkan kaum laki-laki melaksanakan sholat jumat dan mewajibkan kaum wanita untuk menggunakan busana muslimah.

 

KOMPLEK TENGKU BILIK

Bangunan yang megah ini menggambarkan betapa jayanya kerajaan Riau Lingga pada rentang tahun 1844. Bangunan tua yang mempunyai berarsitektur Eropa modern ini berada tepat disamping komplek makam Raja Jakfar.Gedung tengku bilik ini mempunyai kemiripan dengan gedung kampung Gelam yang berada di Malaka. kemiripan arsitektur kedua gedung tersebut menunjukkan kuatnya jalinan persaudaran dan kerjasama dari dua kerajan besar pada saat itu.

 

ISTANA RAJA ALI

Istana Raja Ali juga dikenal dengan Istana Kantor, karena fungsi bangunan ini selain sebagai rumah juga sebagai kantor Raja Ali Yang Dipertuan Muda VIII kerajaan Riau.
Komplek istana ini sangat besar, ukurannya sekitar no meter, dikelilingi oleh tembok tebal lengkap dengan pintu gerbang dibagian belakangnya. Keagungan istana ini masih dapat kita lihat sampai saat ini.Setelah wafat, Raja Ali dikenal dengan Marhum Kantor.

 

MAKAM RAJA ABDURRAHMAN

Raja Abdulrahman adalah Yang Dipertuan Muda VII kerajaan Riau Lingga. Ialah yang membangun mesjid pulau Penyengat.Pada masa pemerintahannya terjadi pengacauan oleh bajak laut, dan campur tangan pihak Inggris mempersulit kedudukan Raja Abdulrahman.
Raja abdulrahman wafat pada tahun 1843, dengan gelar post humousnya adalah Marhum Kampung Bulang. Makamnya terletak di atas sebuah bukit yang memaparkan pemandangan pada mesjid yang dibangunnya.

 

BENTENG PERTAHANAN BUKIT KURSI

Dibangun pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah,  yang pada masa itu menjadikan pulau Penyengat sebagai benteng pertahanan yang ampuh pada perang riau di benteng ini masih dapat kita jumpai parit pertahanan dan meriamnya.

 

PERIGI PUTERI/PERIGI KUNCI

Bangunan mungil yang berbentuk unik beratap kubah setengah slinde ini merupakan tempat pemandian bagi kaum wanita terutama para puteri bangsawan kerajaan Riau-Lingga.

 

 

 

 

 

MAKAM RAJA ALI HAJI

Makam Raja Ali Haji berada satu komplek dengan makam Raja Hamidah Engku Putri. Raja Ali Haji sangat termashyur dengan karyanya Gurindam 12, yang berisi tentang petunjuk menjalankan kehidupan sehari yang bertujuan untuk membentuk akhlak mulia dan menegakkan ajaran agama Islam.KOMPLEK MAKAM DAENG MAREWAH
Daeng Marewah atau Kelana Jaya Putera adalah Yang Dipertuan Muda I kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga, memerintah tahun 1721-1728, gelar posthumousnya adalah Marhum Mangkat Disungai Bahari. Dalam komplek makamnya juga terdapat makam keluarga termasuk Tu Encik Ayu yang merupakan istri Daeng Marewah.

 

KOMPLEK MAKAM DAENG CELAK

Daeng Celak adalah Yang Dipertuan Muda Riau II yang merupakan ayahanda Raja Haji Yang Dipertuan Muda IV. Ia memerintah tahun 1728-1745. Pusarannya telah dibuatkan cungkup menaungi bersma putera istrinya Engku Puan Mandak Binti Sultan Abdul Jalil Ri Ayat Syah. Dalam komplek pemakaman yang dikelilingi tembok berkisi setinggi 70 cm terdapat pusara-pusara lainnya…

3. Raja Ali Haji: Sang Sastrawan dari Pulau Penyengat

Berbicara tentang Pulau Penyengat tidak akan lengkap tanpa seorang intelek yang terkenal sampai penjuru dunia karena karya-karyanya. Dialah Raja Ali Haji yang bernama lengkap Tengku Haji Ali al-Haj bin Tengku Haji Ahmad bin Raja Haji Asy-Syahidu fi Sabilillah bin Upu Daeng Celak ini dilahirkan pada tahun 1808 di Pulau Penyengat. Keluarga besar beliau terkenal dengan keproduktifan menulis, tetapi Raja Ali Haji-lah yang paling produktif menulis. Beberapa anggota keluarganya yang menghasilkan karya adalah Raja Ahmad Engku Haji Tua, Raja Haji Daud, Raja Salehah, Raja Abdul Mutallib, Raja Kalsum, Raja Safiah, Raja Sulaiman, Raja Hasan, Hitam Khalid, Aisyah Sulaiman, Raja Ahmad Tabib, Raja Haji Umar, dan Abu Muhammad Adnan.

Berikut adalah karya-karya Raja Ali Haji, baik yang dikarang sendiri, disalin dari naskah lain, ataupun yang ditulis oleh jurutulis yang diperintahkan olehnya.

1. Gurindam Dua Belas

2. Syair Abdul Muluk

3. Bustan al-Katibin

4. Thamarat al-Muhimmah Diyafah li’l-Umara wa’l-Kubara li Ahli’l-Mahkamah

5. Mukadimmah fi Intizam al-Waza’if al-Mulk Khususan ila Mala’ wa Subhan wa Ikhwan

6. Kitab Pengetahuan Bahasa

7. Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya

8. Tuhfat an-Nafis

 

 

 

 

9. Syair Hukum Fara’idh

10. Syair Hukum Nikah

11. Syair Suluh Pegawai

12. Syair Siti Sianah

13. Syair Sinar Gemala Mestika (Ibrahim, 1998: 528—561).

Pada kerajaan Lingga-Riau, ternyata Raja Ali Haji juga terkenal sebagai seorang anggota kerajaan dan ulama. Dia sempat lama tinggal di Makkah dan belajar di sana. Sekembalinya dari Makkah, dia diminta oleh Raja Ali, sepupunya, untuk mengajar ilmu keagamaan kepada orang-orang. Salah satu muridnya adalah Raja Abdullah, sepupunya sekaligus adik dari Raja Ali. Raja Ali Haji juga berteman baik dengan von de Wall. Sumbangan karya-karyanya dalam bidang agama, sastra, dan bahasa juga perannya yang penting dalam perlawanan terhadap Belanda, membuat beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

 

 

 

 

2 thoughts on “Pusat,Sejarah,Peninggalan di Pulau Penyengat

  1. rereyy mengatakan:

    bah. .. :D
    sekalian lah masukkan pr geo n budmel yg slanjutnya. okkkkeehh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s